Minggu, 23 Oktober 2011

Antara Kipas dan Baling-baling

Tidak ingat sejak kapan anakku mulai tertarik dengan benda berputar seperti kipas dan baling-baling.
Diajak ke mesjid, jalan-jalan, dan makan, yang diperhatikan selalu kipasnya.
Mungkin karena sejak di mulai "ngeh", dia langsung berhadapan dengan kipas angin.  Maklum udara di sini sangat panas.  Semakin lama ketertarikan kepada benda serupa kipas semakin kuat.
Seperti pagi ini, kata pertama yang diucapkan adalah "itu kipass, bu!, dibeliin siapa?" sambil menunjuk ke kipas angin / ceilling fan yang baru dibelikan bapaknya.  Senangnya bukan main, waktu dibelikan kipas ini, apalagi bentuknya yang berupa baling-baling.
Biasanya langsung minta digambarkan aneka rupa kipas, dari kipas angin berdiri, kipas angin duduk, kipas angin dinding, kitiran, dan aneka kipas-kipas lainnya.  Tidak hanya itu, gambar kipas juga harus dilengkapi tombol, kabel dan colokannya.  Dan begitu dia pencet tombolnya, kami harus menirukan suara kipas itu..."beng..beng..beng...!" baru berhenti kalo dia sudah pencet tombol off-nya..  pfiuuhh..cape memang, tapi semoga bisa mengasah imajinasinya.
Dan sekencang apapun dia menangis, akan tiba-tiba berhenti kalo diminta membantu memperbaiki kipas..
Seurieuss bener..
Selain aneka kipas elektronik, ada juga berbagai kitiran dari kertas, plastik, dan kayu. Kalo yang ini dibuatkan aki... banyaaaaakkkkkk sekalii..


 dan lain-lain...

Kenapa yaa Gilang suka banget kipass?? *anakyanganeh*

Merealisasi Ide

Saat mengerjakan sesuatu selalu terbayang banyak ide lain yang ingin aku kerjakan. 
Pada saat baru membuat pola baju, eh kemudian terpikir nanti kalo sudah selesai mau buat taplak meja, tudung kulkas, sama tutup rak piring.  Ketika baju sudah terlanjut dipola dan digunting, bahan taplak sudah diukur juga, belum sempet menjahit karena godaan si kecil yang selalu heboh dengan berbagai alat mesin jahit, akhirnya pekerjaan jahit-menjahit tertunda karena sudah tidak mood.
Hingga tiba saatnya memasak...
Begitu melihat sisa-sisa potongan sayuran, terpikir mau dibuat kompos akkhh.. tapi karena berbagai alasan, maka sampai hari ini sayuran sisa memasak hanya dibuang begitu saja dibawah semak-semak, sambil berharap lama-lama juga jadi komposs.. hehehe...pliss deh..
kalo dilihat-lihat banyak sekali UFO di rumahku.. eitss bukan UFO (unidentified fliying object) ini mah, tapi unfinished object alias pekerjaan yang belum selesai... Diantaranya.. pola baju dan vest, rajutan vest, rajutan tas, sprei, tudung kulkas, topi-topi rajutan...dan lain-lain.. Termasuk cita-cita mau buat kompos.
Ternyata semua itu karena aku belum fokus dan total saat mengerjakan satu pekerjaan, terlalu moody juga.
Yupp.. mulai sekarang belajar fokus, konsentrasi, dan kerjakan...


Semangat..!! ^__^

Rabu, 19 Oktober 2011

Imunisasi Kaki Gajah

Tiga minggu yang lalu..

Setiba di rumah dari pulang kerja, seperti biasa Gilang menyambut kami dengan teriakannya yang khas "eboooooo...!!!" (=ibu) sambil berlari potang panting.  Duh padahal setiap jam istirahat kami juga makan siang di rumah, tapi rasanya seperti sudah lama berpisah.  Siapa yang tidak tahan melihat keceriaan bocah kecil yang selalu bercerita tentang "Kipas dan Baling-baling" itu.   Langsung deh aku terlibat dengan permainan yang baru saja dia mainkan.

Tapi sore itu, Nyenyek menyuruh kami bersiap-siap.  Katanya mau ada pemberian vaksin Kaki Gajah.  Haahh...? kok mendadak? dan seberapa urgent sih?  Kami dan masyarakat awam umumnya hanya manut saja kalo disuruh vaksin ini itu.  Konon, di daerah kami sudah ada yang terkena penyakit Kaki Gajah ini.
Masih ragu-ragu... Tapi yaa sudahlah ikut saja, mungkin untuk pencegahan.

Selepas Maghrib, kami menuju rumah pasangan Ibu Bidan dan Bapak Mantri itu, tanpa bapak Gilang.
Sudah banyak orang, dari balita sampai orang tua.  Satu persatu mendaftar diperiksa tekanan darah, ditanyai masalah kesehatannya,,, dan akhirnya diputuskan...
1  Aki,  tidak usah di vaksin karena lansia sudah di atas 60 tahun
2  Nyenyek, tidak juga karena punya tekanan darah tinggi
3  Ibu, tidak perlu karena mengidap penyakit maag
4  Gilang, tidak boleh di-vaksin karena masih "menwa" (baca=mencret wae)
5  Mang Deni..orangnya di Batam
6  Terakhir.. Bapak Gilang...  hanya Bapak Gilang yang memenuhi syarat untuk mendapat vaksin ini, tapi orangnya keukeuhh tidak mau..... xiixixixixii (takut disuntik ya, Pak?) padahal obatnya diminum kokk...


Sementara si Nyenyek dengan gagah perkasa meminta obatnya ke Bu Bidan,  untuk persiapan kalo tekanan darahnya sudah normal dan Gilang sudah tidak mencret lagi, katanya.. Bu Bidan bilang sih tidak perlu.  Ampun dehh Nyenyek.. semangat banget pengen minum obat yak? :D

Dan kami pun pulang dengan ceria... (karena ga jadi disuntik..hehehe)

Yaa Robb, lindungi keluarga kami dari berbagai penyakit. penyakit lahir dan penyakit batin.
Aamiinn.


Selasa, 11 Oktober 2011

Surat Faiz Untuk Presiden


Membuka-buka file lama, ehh nemu surat ini, ternyata sudah 7 tahun yang lalu..
Sekedar pengingat... 
Takajube...!! anak kelas IIISD mampu menyampaikan cerita sedemikian lugas, terstruktur, namun tetap alami..sesuai usianya..

-----------------------------------------------------------------------------
Kepada Yang Terhormat
Bapak SBY
di tempat
Assalaamu'alaikum.
Apa kabar, Pak? Aku berharap Bapak baik-baik saja seperti aku saat ini.
Bapak, namaku Faiz. Sekarang aku duduk di kelas III SD. Aku suka sekali membaca dan menulis. Alhamdulillah aku sudah menerbitkan dua buku. Tahun lalu aku mengirim surat pada Ibu Presiden. Kata orang suratku lucu. Ibu Mega sempat juga membalasnya.
Bapak sayang, selamat ya sudah dipilih rakyat sebagai Presiden Indonesia yang baru. Selain bersyukur, aku tahu Bapak pasti deg-degan. Soalnya menjadi Presiden itu kan susah. PR-nya banyak sekali, lebih banyak dari PR seluruh murid sekolah di dunia ini.
Aku tahu juga sedikit tentang PR itu, Pak. Misalnya PR bagaimana membuat rakyat tersenyum. Kan susah ya Pak. Kalau semua harga mahal, untuk makan, berobat dan sekolah saja susah, bagaimana rakyat mau tersenyum? Apalagi cari pekerjaan pun sukar sekali. Kudengar di luar negeri banyak tenaga kerja kita yang disiksa. Terus juga PR untuk membuat negeri kita lebih aman. Agar jangan banyak orang jahat berkeliaran, apalagi bawa bom segala. Kami takut sekali.
Kalau bisa nanti negeri kita tidak mendapat rangking I lagi untuk korupsi. Sedih kalau ingat itu. Padahal teman teman kecilku banyak yang harus berjuang di jalanan. Padahal negeri kita kaya. Makanya aku harap Bapak bisa peka dan tegas. Mimpiku sih ingin punya presiden yang dekat sekali dengan rakyat. Tidak malu makan di warung, sering jalan ke tempat kumuh, ngobrol dengan orang kecil seperti aku dan sering tersenyum.
Bapak yang ganteng dan pintar,
Betapa berat menjadi presiden yang tumbuh dari duka lara rakyat. Apalagi rakyatnya selalu berharap terus seperti aku. Ya seperti yang Bapak bilang, Bapak tak bisa berjuang sendirian, tapi bersama kita bisa! Aku yakin itu!
Aku juga ingat kata Bunda, kalau kita menjadi orang baik dan punya hati yang bersih, kita akan dicintai tidak hanya di bumi tapi juga di langit. Makanya aku berdoa semoga nanti tak ada lagi airmata duka. Hanya ada pelangi di mata kita. Seperti lagu yang sering Bapak nyanyikan itu loh.
Selamat berjuang, Presiden baruku. Aku akan selalu mendoakan Bapak. Tapi kalau Bapak salah, biarpun Bapak Presiden, Doktor dan Jendral berbadan tegap, aku boleh menegur ya? Dan Bapak jangan marah ya, sebab itu aku lakukan karena cinta.

Jakarta, 21 September 2004
Salam hormat
Abdurahman Faiz
Kelas III SDN 02 Cipayung, Jakarta Timur

*Abdurrahman Faiz, lahir 15 November 1995, adalah pemenang Lomba Menulis Surat untuk Presiden tingkat nasional yang diadakan DKJ 2003. Penulis buku kumpulan puisi: Untuk Bunda dan Dunia (DAR! Mizan 2004) dan Guru Matahari (DAR! Mizan 2004) ini juga aktif di Forum Lingkar Pena Kids dan sering diundang membacakan karyanya dalam berbagai forum.
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jumat, 16 September 2011

Peer Setelah Libur Panjang

Libur sudah lewat.. saatnya kembali beraktifitas, jadi ibu rumah tangga, working mom, dan tukang rajut...hehe

Tugas pertama di rumah adalah mengurusi cucian sebecak tentunya.
Tugas di kantor, menyelesaikan laporan yang tertunda setumpuk.
Peer rajutan juga masih banyak rupanya..
Ini salah satunya

 orderan Ummu Naflah yang minta dibuatkan rompi buat Teteh Naflah yang lucu, centil n pinter ituh.. warna yang dia minta shocking pink dari bahan katun Bali, sama persis seperti topi yang udah pernah dibuatin juga.  Rompinya baru setengah jalan, tertunda sama orderan dari temen2 sebelumnya. Sorry for that..
Aa Yazid, Dedenya Naflah, juga belum sempet dibuatkan topi sama bootiesnya.. Umminya suka warna kuning, tapi rencananya mau dibuatkan warna biru ajah..biar machoo..

Selain itu juga ada orderan Leny untuk upcoming baby.  Dia minta dibuatkan cardigan warna maroon, cuma berhubung baru 3 bulan hamilnya, jadi belum tau mau dibuatkan model seperti apa, untuk sementara jadi pending list dulu ya buu,, Hehehe

Ada juga tas selempang bahan nylon sembur yang belum jadi, warnanya aku suka banget kombinasi biru, pink, kuning.  Dibuat pas lagi mudik lebaran kemarin. Berhubung benangnya habis, jadi belum sempat dikasi tali selempangnya.

Dan lain-lain... banyak juga ternyata Peer-ku.. Kerjain satu-satu deh..

Semangat..!!







Bertemu komunitas crochet

Sudah lama sebenernya gabung di komunitas para pecinta Crochet di FB, tapi baru 2 hari lalu baca-baca wall-nya.. Ternyata eh ternyata banyak ilmu yang dibagikan hobbiest dari seluruh dunia.  Page ini sendiri punya 6000-an fans lho..

Kemarin ada yang sharing soal menghilangkan turning chain.. (apa ya Bahasa Indonesia-nya hehe). Intinya menyiasati supaya tusuk rantai yang biasanya ada di akhir baris menjadi seolah-olah tidak terlihat, hasilnya keseluruhan rajutan terlihat rapi jali.  Menakjubkan... Subhanallah dapat satu ilmu lagi hari ini.

Dari beberapa postingan juga ada temen2 dari Indonesia rupanya.  Seneng deh ketemu temen-temen sesama hobbiest..

Yo wess.. mo surfing-surfing lagi nih..

Rabu, 14 September 2011

New earflap hat (darurat)

Ini cerita beberapa minggu lalu.
Seminggu sebelum berangkat mudik, mendengar kabar kalo di Jogja sedang musim kemarau.  Dingin sekali kalau malam, tapi sangat panas di siang harinya.  So, i decided to make a hat for my little boy..

Ini dia topinya..

                                                   
Topinya adem, dari benang katun bali halus, dasar putih dikombinasi warna pelangi.  Bisa nutupin telinga kalo pas lagi jalan-jalan n kedinginan, tapi masih bisa dipakai juga di udara panas, tinggal lipat bagian telinga ke atas trus ditali deh.. (tapi pas ditali ke atas kok mirip Mongolian.. hehehe)

Sebetulnya belum selesai sih.  Belum ditambah list sekitar topi sama talinya belum sempet dibuat.  Jadi hanya pakai tusuk chain aja.  Berhubung sudah harus packing menuju kota Jogja tercintah, jadi topinya sederhana aja.  Yang penting nyaman yaa naak..


Cheerss :)