Senin, 09 Januari 2012

Curhatan Mamahku


Sudah menjadi kebiasaan setiap sore mamah selalu punya kegiatan rutin.  
Membakar sampah.
Sepertinya sepele, tapi sangat membantu mengurangi timbunan sampah yang selalu ada setiap harinya.
Dan kalau mamah pas ga di rumah, tentunya saja sampah menggunung.  Dan ternyata membakar sampah itu 
tidak mudah, buatku.
Sebetulnya ada fungsi lain dari kegiatan "bakar-bakaran" ini, penghilang stress!! setidaknya bagi mamah 
yang hobinya bakar-bakaran sampah dan ngecat rumah.. hehe hobi yang aneh. 
Dan ini adalah sepenggal curhatan mamahku di suatu sore..

Dialog I
Tetangga1  : Ehh ibu, rajin banget bersih-bersih. Sampahnya ga usah di bakar, bu.  Banyak asep!     
                   Kalo saya biasanya dibuang ke sungai bawah jembatan itu. 
Mamah       : heemmm.. gak apa-apa, dibakar aja. Sisa abunya bisa buat taneman..


Dialog II
Tetangga 2 :  (Masuk ke mobilnya sambil membawa bungkusan).
Mamah      :  Mau pergi bu insinyur?
Tetangga2   : iya nih.  Sekalian mau buang sampah ke jembatan.  Biasanya suami saya yang buangin    sekalian    berangkat ngantor.
Mamah      : iih si Ibu, nanti sungai nya penuh sampah atuh
Tetangga2   : biarin kan airnya deres. Mau nitip?
Mamah:       aah ga usah, makasih.. (menarik nafas)

Dialog III
Pak RT       : aduh rajin pisan si ibu bebersih terus yah?
Mamah        ::harus atuh Pak RT.
Pak RT       :  Bu, ga usah repot-repot bakar sampah, nanti saya buangin deh sekalian sama punya saya.
Mamah       ::mau dibuang kemana gitu Pak RT?
Pak RT        : itu ke sungai  dibawah jembatan…
Ibuku          : (setelah menahan emosi sedari tadi, mulailah keluar taringnya..)
                      Pak RT ini gimana sih? Sebagai tokoh masyarakat bukannya ngasi contoh yang baik, malah nyaranin buang sampah ke irigasi.  Air sungai itu kan ngairin sawah-sawah kita.  Nah trus kalo banyak sampahnya atuh sawahnya jadi kotor.  Tanamannya jadi ga sehat, trus padinya juga tercemar sampah, trus dimakan deh sama kita.
Pak RT       : (hanya nyengir saja..)

Saat hujan tiba.
Ternyata sudah banyak masyarakat yang meninggalkan kebiasaan membakar sampah disini.  Tidak juga mau membayar retribusi sampah ke Dinas Kebersihan. Akhrinya lebih memilih cara praktis dengan melemparkan sampah ke sungai.  Bahkan tetangga-tetangga dibelakang rumah yang dikiri kanannya ada selokan kecil juga tidak luput dari aksi “tebar sampah” ini.
Alhasil, sungai di hilir menjadi dangkal karena timbunan sampah. Arus air hujan yang semestinya lancar mengaliri sawah-sawah hijau, berbalik arah, semakin tinggi-semakin tinggi hingga tiba juga di teras-teras rumah warga.   
Kalau sudah kebanjiran baru terasa akibatnya.. 
Salah siapa?

Kata Mamah dengan hebohnyah..

Jumat, 30 Desember 2011

Ooooww kamu ketauan..

Tertangkap basah lagi corat-coret...
 Oooh...ternyata ini yang suka minum kopi Bapak sampai dedek-dedeknya..

Perbincangan pagi-pagi

Ibu   : "Pak Menteri, rapi amat mau rapat ya Pak?"
Iyang: "Engga, Iyang mau kondangan.." (lempeng)
Ibu   : "kondangan sama siapa?"
Iyang: "Kondangan sama Bapak naek perahu..les go...!!"
Ibu   : "Ooohh...ya ya ya.." (sambil nahan ketawa)
Beberapa menit kemudian:
Iyang:"Ayoo Bu, kita kondangan!"
Ibu   :"nanti yaa..nunggu bapak pulang.." (sambil mikir, siapa yaa yg lagi hajatan?)


Duuh Pak Menteri ini demennya kondangan.. ^_*

Kamis, 22 Desember 2011

Everybody Loves strawberry

I made one.. and then two.. three..
more and more strawberry again..
Like the taste, like the colour, like to crochet it..
It becomes a bunch of strawberry...


Selasa, 13 Desember 2011

He is My Musician

Apapun tentangnya selalu menarik..
Dia senang musik, bongkar perabot, menari, bernyanyi,

Serunya bermain gitar handmade by Aki, dari bekas kaleng kue..



He is my musician ...
Love you sooooo much... *_*

Senin, 05 Desember 2011

Keluarga Pelayan Transportasi Bebas Emisi

Ada kisah yang menarik dari tetangga di samping rumah. 
Pasangan muda, dengan 1 anak, tinggal bersama bapak/mertuanya yang separuh baya. 
Di pagi hari sang istri sudah rapi, bersiap mengantar anaknya sekolah, sementara sang suami mulai berangkat beraktifitas, menarik becak. 
Di siang hari sang suami pulang, membawa hasil nafkah untuk keluarga, kadang  membawakan mainan atau CD untuk sang anak, sang istri menyiapkan makan siang untuknya. Usai rehat sang suami kembali bekerja, menarik becak hingga sore.  Kupikir aktifitas pencarian nafkah mereka hari ini selesai, ternyata tidak.

Sudah malam, sekitar pukul 22:00 wib, kudengar sang suami baru pulang,  ketukan becaknya sebagai tanda untuk sang istri untuk minta dibukakan pintu rumah belakang.  Ya Allah, hingga larut malam? bekerja tak kenal lelah untuk keluarga.  Sang suami yang pekerja keras dan sang istri yang amanah dan pandai bersyukur.  Keharmonisan mereka bisa menjadi contoh, bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dengan tingginya pangkat, melimpahnya harta. Dalam kesederhanaan pun mereka mampu mensyukuri rizki-Nya , yang tampak dari wajah mereka yang berseri-seri dan tak pernah kudengar ada pertengkaran/masalah sedikit pun. Rumah panggung, sudah dipasangi keramik. Ayah mereka terlihat lebih sehat, dibanding ketika sang ibu masih hidup.

"...karena, bukan kebahagiaan yang menjadikan kita bersyukur, tapi bersyukurlah yang menjadikan kita berbahagia.."
Quote MTGW



Minggu, 04 Desember 2011

Gilang's First Clipping

Sore hari adalah waktu yang paling menyenangkan.  Karena aku punya banyak waktu di rumah, bermain bersama si Oyang, my little boy.
Selalu ada aja kejutan setiap hari.  Seperti sore itu, dia mengambil tasnya dan mencari-cari sesuatu sambil bertanya-tanya.. "aki.. mana kliping Iyang?
(Whaat..???.kliping apa maksudnya?)
Dan dengan bangga dia menunjukkan potongan-potongan kertas bekas kalender yang ditempel di kertas panjang. "Ini kliping Iyang, bu..!"

Ada haru campur sedih, ternyata selama ditinggal anakku sudah belajar banyak hal dari sang kakek.  Andaikan waktu bisa terulang.  Andaikan setiap hari bisa terus bersamanya, mungkin aku tidak akan kehilangan moment penting pertumbuhannya.

Maafin ibu ya Iyang... kissnhug  ^_*